ISLAM MENYIKAPI BULLYING

Bercanda atau bergurau adalah suatu hal yang lumrah dilakukan manusia. Hal ini dilakukan agar nuansa pergaulan kita tidak terkesan monoton dan garing. Perlu adanya gurauan agar kita tersenyum dan tertawa untuk melepaskan berbagai macam kepenatan. Namun terkadang candaan kita melebihi batas wajar sehingga menimbulkan preseden yang buruk bagi sekelilingnya.

Islam sebagai agama yang damai, menolak segala upaya “perusakan” baik itu dalam bentuk fisik atau pun non-fisik. Upaya perusakan fisik seperti memukul, meninju, atau merusak barang orang lain. Sedangkan upaya perusakan non-fisik seperti merusak mental, psikologis, dan lain sebagainya.

Beberapa tahun belakangan, ada beragam model bercanda yang banyak digemari khalayak ramai. Salah satunya adalah komedi tunggal, dalam komedi tersebut terdapat sebuah teknik yang dikenal dengan istilah roastingRoasting adalah tehnik memanaskan dan mencela orang lain. Biasanya komedian melakukan roasting kepada komedian lain, dewan juri, atau tokoh terkenal.

Meskipun terkadang semuanya telah di-setting, akan tetapi tidak jarang cara bercanda semacam ini menyisakan luka bagi si korban sehingga menimbulkan kemarahan di kemudian hari. Rasulullah Saw dengan wibawa dan kharismanya, tetaplah seorang manusia biasa yang juga memerlukan canda dan tawa dalam kesehariannya. Hal ini bisa dilihat dalam petikan hadis berikut:

“Suatu ketika Rasulullah Saw. mendatangi seseorang yang bernama Zahir bin Hizam atau Haram yang saat itu tengah menjual barang dagangannya. Zahir adalah sahabat yang bertubuh mungil namun Rasul Saw. menyukainya. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendekapnya dari belakang dan Zahir tidak mengetahuinya. “Lepaskan! Siapa ini?” tanya Zahir. Lalu ia menoleh ke belakang dan mengetahui bahwa yang mendekapnya adalah Rasul Saw. Seketika itu ia tidak lagi melawan dan membiarkan punggungnya menempel dengan dada Rasul.

Ketika sadar bahwa Zahir telah mengetahuinya, Rasul pun berseloroh, “Siapa yang mau membeli hamba ini?” “Kalau engkau menjualku wahai Rasul, demi Allah aku tidak akan laku,” Sahut Zahir. Kemudian Rasul mengatakan, “Namun tidak di hadapan Allah, kamu adalah barang mahal yang pasti laku.” Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam Sahih ibn Hibban, Sunan al-Bayhaqi, dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Seperti itulah gaya bercanda Rasulullah Saw kepada sahabatnya. Bercanda bukan suatu hal yang dilarang, namun kadar dan takarannya harus benar-benar diukur dan sesuaikan. Terkait hadis di atas, al-Harawi dalam Jam’ul Syamail fi Syarhil Syamail memberikan penjelasan berkenaan dengan kalimat “Siapa yang mau membeli hamba ini?” hamba yang dimaksudkan adalah hamba Allah karena semua manusia pada kenyataannya adalah hamba Allah.

Sedangkan bagaimana hamba tersebut dijual bukan bermaksud merendahkan Zahir bin Hizam, justru dalam candaan tersebut Nabi bermaksud memuliakannya. Jika dibahasakan, Siapakah yang mau menukar hamba ini dengan yang hamba yang sepadan dengannya?” Di samping itu, candaan beliau dalam konteks di atas tidak memiliki dampak buruk bagi Zahir bin Hizam dan keduanya tampak harmonis dalam canda yang menyenangkan.

Jika bercanda melampaui batas itu bisa jadi masuk dalam kategori bullying, terlebih jika dalam candaan tersebut melibatkan orang lain sebagai obyek candaan. Fenomena yang terjadi di sekeliling kita pada kenyataannya mengonfirmasi hal itu. Banyak sekali korban bullying yang hanya sedikit dari mereka yang berani melapor.

Dalam sebuah survei tahunan lembaga charity anti-bully, Ditch the Label di United Kingdom pada tahun 2016 menemukan fakta bahwa dari 8.850 responden umur 12 sampai 20 tahun, 86% dari mereka tidak merasa pernah mem-bully siapa pun. Namun, ketika mereka ditanya apakah mereka pernah secara sengaja mengganggu orang lain? 33% dari mereka menjawab pernah.

Ketika ditanya apakah mereka pernah mengucilkan seseorang dari grup sosial? 19% mengaku pernah melakukannya. Dan ketika mereka ditanya apakah mereka pernah mengeluarkan kata-kata kotor yang ditujukan kepada seseorang di media sosial? 27% dari mereka mengatakan pernah. Lalu ketika mereka ditanya apakah mereka pernah membuat rumor tentang orang lain? 13% dari mereka mengatakan pernah. Ini adalah fenomena yang terjadi di United Kingdom yang sampelnya diambil dari seluruh wilayah bagiannya, mulai dari Scotland sampai South West.

Pemahaman yang benar terkait bullying layaknya harus benar-benar gencar untuk disosialisasikan. Pasalnya, pemahaman yang salah membuat seseorang merasa tidak benar-benar pernah melakukannya padahal itu sudah ia lakukan dan memiliki dampak destruktif.  Untuk itu perlu kiranya menyimak Department of Education and Training Victoria yang memberikan definisi terkait bullying.

Bullying itu terjadi jika seseorang atau sekelompok orang mengganggu atau mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang baik secara fisik maupun psikologis, mengancam properti, reputasi atau penerimaan sosial seseorang serta dilakukan secara berulang dan terus menerus. Bentuk-bentuk bullying bisa berupa fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain.

Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara soial, dan menghancurkan reputasi seseorang. Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.

Masih dari lembaga survei yang sama, dampak dari tindakan bullying tidaklah main-main. 44% korban bullying merasa depresi, 41% merasa diasingkan, 33% bahkan pernah berfikir untuk melakukan bunuh diri. 26% merasa harus meninggalkan kelas, sebagian lagi merasa harus kabur dari rumah atau memakai narkoba dan alkohol.

Islam sebagaimana seharusnya adalah agama yang damai, agama yang harmonis dan rasional. Hal ini dibuktikan dengan ayat Alquran terkait larangan merendahkan orang lain.

Wahai orang-orang yang beriman janganlah salah satu kaum dari kalian menghina kaum yang lain, bisa jadi kaum yang dihina lebih baik dari pada yang menghina…” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)

Untuk menjelaskan ayat di atas, saya akan mengemukakan tiga pandangan ahli tafsir klasik yang secara khusus mengomentari ayat di atas. Pertama adalah Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan fi Tafsiril Quran, ayat ini mengandung larangan bagi orang-orang beriman untuk menghina sesamanya dengan segala bentuk hinaan, tidak halal bagi mereka untuk menghina yang lainnya karena kefakirannya, dosa yang diperbuatnya atau hal-hal lainnya.

Komentar yang kedua datang dari Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Adzim, menurutnya sukhriyyah (hinaan), dalam ayat tersebut bukan hanya berarti istihza’ (mengolok-ngolok) tetapi juga ihtiqar(memandang rendah). Ia mengutip sebuah hadis sahih yang maknanya sebagai berikut, “sombong adalah menolak kebenaran, meremehkan dan menganggap rendah manusia.” Tindakan semacam ini diharamkan dalam agama Islam, karena boleh jadi yang direndahkan lebih mulia di sisi Tuhan dibandingkan orang yang menghina.

Dan yang ketiga adalah Fakhruddin al-Razi dalam Mafatihul Ghayb. Menurutnya, kata kaum dalam ayat di atas khusus ditujukan kepada laki-laki, alasanya karena pada ayat selanjutnya Allah secara khusus menyebutkan larangan perempuan menghina perempuan lainnya. Alasan kedua adalah karena level yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, perempuan dibandingkan dengan laki-laki lemah, oleh sebab itu laki-laki akan lebih dianggap tidak berwibawa jika harus merendahkan yang jauh lebih lemah darinya.

Ayat tersebut mengekspresikan kemarahan Allah terhadap orang yang merasa lebih superior dan mengangkat derajat orang yang dihinakan atau inferior. Ini adalah bentuk kontra-superioritas kepada orang yang merasa lebih hebat. Sebab, orang yang merasa hebat memiliki kecenderungan untuk menganggap remeh orang yang lebih rendah darinya. Ini juga terjadi kepada iblis yang dengan sombong menolak Adam dan mengatakan, ‘saya lebih baik dari pada Adam.’ Namun pada akhirnya Allah mengangkat derajat Adam sebagai khalifah di bumi.

Menurut ar-Razi, dalam cuplikan ayat di atas Allah secara khusus menyebutkan “kaum” bukan “personal”, hal ini menunjukkan adanya kecenderungan sikap superior muncul ketika seseorang berkumpul bersama gerombolan atau komunitasnya. Sebaliknya jika ia seorang diri, ia akan merasa inferior dan sikap superiornya sedikit melemah. Dengan demikian, ayat ini terang-terang menolak segala bentuk kesombongan atau merasa diri lebih baik dan lebih hebat dalam segala hal.

Logika yang dibangun oleh ayat di atas sangatlah menarik. Merendahkan orang lain dalam bercanda hampir mayoritas karena kelebihan yang dimiliki oleh seseorang dalam beberapa hal. Faktanya manusia adalah makhluk kompleks yang bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Bisa jadi orang yang dinaggap miskin justru kaya hatinya. Bisa jadi orang yang dianggap jelek justru banyak hartanya. Bisa jadi orang yang aneh justru memiliki IQ yang lebih tinggi. Dan banyak lagi logika-logika yang menegaskan bahwa tidak layak dalam setiap candaan kita mengandung unsur melemahkan orang lain.

Pada akhirnya marilah kita membiasakan diri dengan gaya bercanda sehat yang tidak mengandung unsur saling merendahkan, menghina, atau menyakiti orang lain dan hendaklah kita selalu menjaga etika dalam bergaul dengan sesama. Terdapat sebuah pernyataan menarik dari Ibnul Qayyim al-Jauziyyah terkait hal ini, “Agama Islam seluruhnya adalah akhlak, maka barang siapa yang menghilangkan etikamu, sesungguhnya ia telah menghilangkan agamamu.” Waallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan