Kelompok Anti Islam Meningkat 20% di Amerika Serikat

Baru setahun Donald Trump menjabat  sebagai presidena Amerika Serikat, sejarah mencatat pertumbuhan luar biasa kelompok antimuslim dan penyebar kebencian lainnya. Menurut data yang dikumpulkan The Southern Poverty Law Center, sebuah lembaga HAM AS, pertumbuhan kelompok penyebar kebencian mencapai 20 persen.

Menurut lembaga ini, terdapat 600 kelompok supremasi kulit putih. Di antaranya ada kelompok neo-Nazi, yang tumbuh menjadi 121 kelompok dari 99. Mereka inilah salah satunya yang mendukung Trump saat kampanye. Ironisnya, salah satu anggota kelompok supremasi kulit putih ini adalah pelaku penembakan di SMP Florida, AS, yang menewaskan 17 murid dan guru, yang terjadi pekan lalu.

Kelompok lain yang juga berkembang adalah antimuslim yang tumbuh dari 101 menjadi 114 dalam waktu setahun.  Menurut Direktur SPLC, Heidi Beirich, kebijakan pemerintah AS di bawah Trump memberi peluang tumbuhnya kelompok penyebar kebencian ini.

“Anda bisa bayangkan, orang-orang yang rasis mendapatkan posisi tinggi di pemerintahan, sementara imigran disingkirkan, dan muslim dilarang datang,” kata Beirich dalam pernyataan yang dirilis Rabu (21/2).

SPLC juga mencatat adanya gerakan untuk melawan sikap pemerintahan Trump yang cenderung mendukung kulit putih. Ini ditandai dengan tumbuhnya kelompok prokulit hitam dan promuslim. Kelompok seperti Nation of Islam, yang terdiri dari muslim kulit hitam tumbuh signifikan dari 193 pada 2016 menjadi 233 hingga akhir 2017.

Dalam laporannya, SPLC juga mencatat kelompok alt-right, yang merupakan kelompok ekstremis kulit putih, dengan leluasa menyebar propaganda mereka secara daring. Mereka secara masif dan teratur mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa kulit putih AS saat ini terdesak oleh makin banyaknya ras kulit berwarna di negara itu.

Gedung Putih sendiri tidak memberi tanggapan atas data yang dikeluarkan SPLC tersebut.

Tinggalkan Balasan