674 Orang Telah Terbunuh Akibat Pemboman Rezim Suriah di Ghouta Timur

DAMASKUS, SURIAH () – Sekitar 674 orang telah terbunuh oleh rezim teroris Suriah di Ghouta timur, menurut Unit Pertahanan Sipil Suriah, White Helmet atau Helm Putih.

Sampai Jum’at (2/3/2018) pagi, sekitar 2.708 orang juga cedera dalam 12 hari terakhir pemboman terus-menerus, termasuk 540 wanita dan 658 anak.

Warga sipil terpaksa bersembunyi di ruang bawah tanah selama berhari-hari, dengan jumlah korban tewas yang lebih tinggi diamati di antara orang-orang yang mempertaruhkan nyawa dari serangan udara konstan untuk mencari makanan bagi keluarga mereka.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengkonfirmasikan bahwa pasukan pemerintah Presiden Suriah Bashar Al-Assad melancarkan serangan darat di wilayah yang dikepung pada hari Rabu, setelah laporan bahwa rezim tersebut telah mengirim bala bantuan ke daerah itu sejak awal bulan lalu.

Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB memilih dengan suara bulat untuk mendukung gencatan senjata 30 hari di Suriah.

Tak lama setelah pemungutan suara, pesawat tempur rezim teroris Assad menyerang kota lain di provinsi ini.

Serangan udara terus terjadi di pinggiran kota, meskipun ada pengumuman dari Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengenai gencatan senjata lima jam sehari yang akan dilaksanakan di daerah kantong tersebut sehingga memungkinkan sebuah jalur yang aman bagi orang-orang yang terluka untuk dievakuasi dan warga sipil untuk pergi.

Kemarin, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert menyebut proposal Rusia untuk gencatan senjata lima jam “sebuah lelucon”, mengecam pemboman yang terus berlanjut yang melanggar keputusan PBB tersebut.

“Apa yang perlu terjadi adalah gencatan senjata nasional yang memberikan suara dengan suara bulat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu lalu,” kata Nauert kepada wartawan pada sebuah konferensi pers.

“Lima belas negara mendukungnya, izinkan saya mengingatkan Anda. Begitu pula Rusia”.

Ghouta Timur adalah satu dari empat zona de-eskalasi yang didirikan Mei lalu oleh Rusia, Iran dan Turki untuk membendung pertumpahan darah perang sipil enam tahun Suriah.

Namun, wilayah ini telah mengalami pemboman konstan selama berbulan-bulan, dengan persediaan bantuan sangat dibatasi oleh rezim Assad membuat 400.000 warga sipil berjuang untuk bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan