Duduk Seperti ini dilarang Saat Mendengarkan Khutbah

Dalam pelaksanaan shalat Jumat, seorang muslim tidak hanya fokus pada hal-hal yang diwajibkan saja. Namun ia juga harus memerhatikan perkara sunnah atau adab-adab lainnya agar keutamaan shalat jumat bisa diraih dengan sempurna. Salah satuny, ketika mendengarkan khutbah kita dilarang untuk duduk dengan melipat kedua kaki ke perut.

Dalam pembahasan fikih, duduk seperti ini biasa disebut dengan Al-Ijtiba’, yaitu kondisi seseorang yang melipat kedua kakinya ke perut dengan baju. Ia menyatukannya dengan baju itu bersama punggungnya, lalu merapatkannya ke perut. Terkadang pula, ia dilakukan dengan kedua tangan sebagai ganti baju. (An-Nihâyatu fi Gharîbil-Hadîts, karya Ibnul Atsir: I/335)

Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam melarang perbuatan seperti ini dalam hadits Sahal bin Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Hadits ini dikatakan dha’if oleh sebagian ulama. Namun yang benar, hadits tersebut tsabit (kuat). Imam Nawawi mengatakan, “Pendapat yang shahih ialah hukumnya makruh. Dan maknanya seperti yang dikemukakan Al-Khatthabi, Al-Ijtiba` (duduk dengan merapatkan kedua kaki ke perut) bisa mengantar tidur sehingga wudhunya ada kemungkinan batal. Selain itu, ia juga tidak dapat mendengar khutbah.” (Raudhatuth-Thâlibîn, karya Imam Nawawi: II/33)

Pendapat ini juga dikuatkan oleh syaikh al-utsaimin dalam syarah kitab riyadush shalihin, 6/449, menurut beliau, “Adanya larangan dari Nabi tersebut dikarenakan dua sebab, pertama: duduk dalam posisi tersebut bisa mengantarkan tidur sehingga tidak mendengarkan khutbah. Kedua: dikhawatirkan ketika dia bergerak auratnya akan tersingkap karena kebanyakan orang menggunakan kain sarung atau jubah.” Namun demikian beliau masih membolehkan duduk dalam posisi di atas jika bisa terjaga dari dua penyebab lahirnya hukum tersebut. Larangan ada karena adanya sebab (illah) dan ketika sebab itu hilang maka hukum itu pun ikut hilang. Wallahu a’lam bis shawab!

Tinggalkan Balasan