MUI: Jangan Gegabah Kaitkan Terorisme dengan Islam

Jakarta, CNN Indonesia — Maraknya kasus radikalisme dan terorisme yang terjadi seringkali dikaitkan dengan agama Islam, berhubung pelaku yang juga beragama Islam.

Kondisi ini menjadi perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sekjen MUI, Anwar Abbas dalam pernyataannya yang diterima redaksi CNNIndonesia.com, pada Minggu (4/3) mendesak kepolisian dan juga media tidak buru-buru mengaitkan kasus radikalisme dan terorisme dengan agama Islam.

“Kami berharap kepada pihak kepolisian dan media dalam menangani dan menghadapi masalah, terutama yang terkait dengan masalah kriminal, radikalisme dan terorisme agar jangan cepat-cepat mengaitkan para pelakunya dengan agama Islam meskipun mereka beragama islam,” ungkapnya.

Menurut Anwar, hal itu mestinya tidaklah sulit untuk dilakukan. “Karena saya lihat pihak kepolisian dan media juga bisa tidak mengait-ngaitkan masalah yang ditimbulkan oleh orang kristen misalnya dengan agama kristen atau oleh orang hindu dengan agama hindu yang dianut oleh pelakunya.”

Lebih jauh ia menekankan, manajemen pengelolaan kasus tersebut penting untuk dipikirkan dan dilakukan agar masalah yang ada tidak meluas dan tidak merebak meluas serta tidak akan menyakiti hati dari para pemeluk agama yang sama dengan agama para pelaku.

“Dan kalaupun nama yang mereka pakai dalam melakukan gerakan yang meresahkan tersebut menyebut-nyebut kata islam kita berharap kepada pihak kepolisian agar dalam menyelesaikan masalah tersebut tidak menonjolkan agama atau kata islam yang mereka jadikan sebagai nama dari gerakan dan atau kegiatannya tersebut, tapi menekankan kepada kasus dan masalah serta pelanggaran yang mereka lakukan saja,” tambah dia.

Dengan demikian, kata Anwar, persoalan menjadi terlokalisir hanya kepada para pelaku dan orang yang seagama dengannya tidak tersinggung dan tidak merasa ter bawa-bawa sehingga kegaduhan seperti yang banyak terjadi selama ini bisa dihindari.

“Cara-cara penanganan kasus seperti ini perlu menjadi perhatian dari para penegak hukum dan media agar umat islam yang mayoritas di negeri ini tidak merasa disudutkan seperti yang banyak terlihat dan dirasakan selama ini,” harapnya.

Anwar khawatir jika cara-cara penanganan yang sudah ada terus berlangsung maka yang akan terjadi adalah kegaduhan yang tadinya kecil bisa meruyak dan melebar ke mana-mana. Lebih jauh, masalah ini menjadi persoalan yang menguras energi dan menghabiskan waktu yang banyak sehingga menjadi tidak produktif.

“Padahal kita yang hidup di negeri yang kita cintai ini ingin hidup tenang, dengan penuh rasa aman, tentram dan damai tanpa ada rasa curiga dan syak wasangka terhadap lainnya, terutama kepada pihak pemerintah dan para penegak hukum agar kita bisa bekerja dengan tenang sehingga produktivitas kita sebagai bangsa bisa meningkat dan kemajuan bangsa ini bisa kita akselerasi,” ujarnya.

Senada dengan Anwar, Zainut Tauhid Sa’adi, Waketum MUI saat dihubungi terpisah mengatakan hal yang sama.

“Pada prinsipnya, saya setuju dengan pendapat beliau yaitu lebih fokus pada tindakan kriminalnya jangan mengaitkan kepada identitas pelakunya apakah itu sukunya, etnisnya, golongannya apalagi agamanya. Karena itu akan menambah persoalan baru dan dapat menimbulkan ketersinggungan kelompoj,” kata dia, Minggu (4/3).

Tinggalkan Balasan