Islandia Menuju Kriminalisasi Syariat Sunat untuk Laki-laki

Reykjavik – Rancangan Undang-undang yang mengkriminalkan sunat bagi laki-laki diajukan ke parlemen Islandia. RUU tersebut mengusulkan hukuman penjara enam tahun atas dasar tindak pidana “penghapusan organ seksual secara keseluruhan atau sebagian”.

Para pemimpin agama telah bereaksi atas usulan RUU tersebut. Salman Tamimi, presiden Asosiasi Islam Islandia, menyebut usulan tersebut sebagai “serangan terhadap agama”.

“RUU ini dibangun hanya dengan perasaan tanpa memikirkan apa artinya mengkriminalisasi penyunatan. Kami tidak menerimanya,” ungkapnya.

Sunat disebut melanggar hak anak laki-laki. RUU tersebut diajukan dengan alasan kesehatan. Dalam hal ini, Tamimi mendukung jika sunat dilakukan secara aman. Tapi bukan larangan total.

Sunat laki-laki adalah salah satu prosedur pembedahan yang paling umum di dunia. Sebuah penelitian terbaru memperkirakan bahwa sekitar 38 persen pria di seluruh dunia telah menjalaninya. Menurut penelitian yang sama, separuh orang yang disunat karena alasan agama atau budaya.

Partai Progresif MP Silja Dögg Gunnarsdóttir adalah kekuatan pendorong di balik undang-undang tersebut. “Saya tidak berpikir perlu berkonsultasi. Saya tidak melihatnya sebagai masalah agama,” katanya.

“Setiap individu, apapun jenis kelaminnya atau berapa umurnya, harus bisa memberikan informasi untuk sesuatu hal yang tidak perlu, tidak dapat diubah dan bisa berbahaya. Tubuhnya adalah pilihannya,” lanjutnya.

Panduan yang dikeluarkan pada tahun 2013 oleh Ombudsman Nordik (wilayah Skandinavia yang mencakup Islandia) untuk anak-anak dan ahli pediatri menyimpulkan bahwa tidak ada alasan terkait kesehatan untuk menyunat anak laki-laki di negara-negara Nordik.

Sementara itu, di dalam Islam sunat laki-laki disunnahkan, bahkan menurut sejumlah ulama merupakan kewajiban. Tamimi menegaskan bahwa undang-undang tersebut adalah sebuah serangan terhadap agama secara lebih luas.

“Mereka mencampuri kebebasan beragama,” kata dia seperti dikutip The Independent, Senin (19/02/2018).

Tinggalkan Balasan