Agar Istiqomah Shalat Tahajjud

Shalat tahajjud adalah shalat sunnah yang disebutkan langsung dalam Al-Qur’an. Termasuk salah satu sifat dan amalan para penghuni surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutnya sebagai kebiasaan orang shalih. Umumnya orang menilainya sebagai tanda keshalihan.

Agar diri semangat dan istiqomah mengerjakan shalat tahajjud (qiyamullail) ini, ada beberapa sebab yang bisa diusahakan. Di antaranya:

Pertama, ikhlas melaksanakannya karena Allah. Yaitu melaksanakan amal untuk Allah saja dan berharap balasan dari-Nya semata. Ikhlas ini menjadi kewajiban dalam setiap amal. Ketika ikhlas seorang hamba kuat maka ia akan mendapatkan taufiq lebih dalam ketaatan dan ibadah.

Kedua, rasakan bahwa Allah menyeru langsung dirinya untuk melaksanakan qiyamullail dan menginginkan dirinya untuk bangun tahajjud. Jika ia mampu menghadirkan perasaan ini maka jiwa akan lebih semangat menyambutnya.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil: 1-4)

Ketiga, pahami keutamaan shalat tahajjud. Siapa yang memahami keutamaan satu ibadah pasti ia lebih semangat mengerjakannya dan berusaha melaziminya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebutkan bahwa shalat paling utama setelah shalat fardhu adalah qiyamullail (tahajjud). Shalat tahajjud si sepertiga malam sangat dicintai Allah Ta’ala. (Muttafaq ‘Alaih). Dan masih banyak keutamaan lainnya.

Keempat, lihat semangat salafush Shalih (orang-orang shalih terdahulu) dalam melaksanakan tahajjud dan kenikmatan yang mereka rasakan dalam ibadah saat banyak manusia tertidur itu. Mereka meraih kebahagiaan dan kegembiraan yang tak terkira.

Muhammad bin Al-Munkadir berkata: tidak tersisa kenikmatan dunia ini kecuali dalam tiga hal: qiyamullail, berjumpa saudara seiman, dan shalat berjamaah.

Kelima, paksa diri untuk bangun tahajjud dan tanamkan tekad kuat untuk munajat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala di gelapnya malam. Ini termasuk sebab yang paling menentukan. Ini menjadi sebab utama Allah tolong seseorang bangun malam untuk tahajjud. Kenapa harus dipaksa? Karena tabiat jiwa ingin berleha-leha, santai, dan cenderung kepada senang-senang dan keburukan. Ini tidak boleh dituturi sehingga harus dipaksa untuk ibadah dan taat.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

. . . paksa diri untuk bangun tahajjud dan tanamkan tekad kuat untuk munajat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala di gelapnya malam. . .

Keenam, jaga adab-adab tidur supaya lebih mudah bangun. Dia antaranya: tidur dalam konidsi suci, berdoa, miring ke sebelah kanan dengan hadap ke kiblat, tidur lebih awal, tidur sejenak di waktu siang, dan lainnya.

Ketujuh, jauhi dosa-dosa; khususnya dosa mata. Jika seseorang menginginkan kemuliaan munajat kepada Allah dan kenikmatan dalam dzikir kepada-nya di waktu malam maka ia harus menjauhi dosa-dosa dan maksiat di siang hari. Seseorang yang bergelimang dosa sangat sulit untuk mendapat taufiq untuk qiyamullail.

Ada seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham: “Aku tak mampu melaksanakan qiyamullail, beritahu aku akan obatnya?”

Ia menjawab, “Janganlah kamu bermaksiat di waktu siang, niscaya Allah akan membangunkanmu di hadapan-Nya di waktu malam. bedirimu di hadapan-Nya di waktu malam adalah salah satu kemuliaan paling besar, sedangkan pelaku maksiat tidak berhak mendapat kemuliaan itu.”

. . . Seseorang yang bergelimang dosa sangat sulit untuk mendapat taufiq untuk qiyamullail. . .

Semoga Allah memberi taufiq kepada Anda dan kami untuk meraih kemuliaan dari-Nya dengan tahjjud dan qiyamullail. Wallahu A’lam. []

Tinggalkan Balasan