Kekerasan Terhadap Muslim Sri Lanka Kembali Terjadi

Kandy – Otoritas Sri Lanka memberlakukan jam malam di sebuah pusat kota yang banyak dikunjungi wisatawan menyusul beberapa hari kerusuhan antara komunitas buddha dengan masyarakat minoritas muslim. Seorang warga buddhist dilaporkan tewas dan sejumlah toko milik warga muslim dibakar dalam kerusuhan tersebut. Saksi mata mengatakan kerusuhan yang terjadi saat ini mengingatkan pada insiden sejenis pada tahun 2014 oleh kelompok nasionalis buddhist ekstrim.

Polisi mengatakan pada hari Senin (05/03/2018) bahwa telah terjadi kerusuhan dan serangan dengan pembakaran ke pusat bisnis muslim sejak akhir pekan lalu di distrik Kandy sebelah utara Nuwara Eliya, Sri Langka tengah. Sementara menurut sumber Al-Jazeera, aksi kekerasan telah menyebar ke seluruh bagian negara pulau di Asia Selatan tersebut.

“Jam malam diberlakukan untuk memudahkan aparat mengontrol situasi di area tersebut,” kata juru bicara kepolisian, Ruwan Gunasekara.

Sejumlah perwira polisi dikirim ke wilayah Kandy yang sedang memanas untuk memastikan agar kerusuhan tidak meluas dan berkembang menjadi konflik inter-komunal keagamaan. Demikian pernyataan pejabat pemerintah menyikapi insiden di Kandy.

Di bagian timur Sri Lanka dilaporkan sekelompok massa bergerak dan membakar toko-toko dan properti milik warga muslim. Sekelompok massa lainnya menyerang dan merusak masjid. Pejabat-pejabat lokal mengatakan 22 orang lebih telah ditahan polisi karena diduga terlibat dalam aksi pembakaran properti. Di tempat terpisah, para perwira senior juga dilaporkan telah menggelar investigasi atas kinerja polisi dalam mengatasi situasi.

Rajith Keerthi Tennakoon, direktur eksekutif Pusat HAM Sri Lanka mengecam kinerja polisi yang tidak efektif. Menurut Tennakoon, inefisiensi kepolisian itu mendorong terjadinya kerusuhan.

“Melalui medsos, sekelompok massa etnis Sinhala dimobolisir dan dikumpulkan di kota Teldeniya jam 10 pagi. Satu jam berikutnya, yaitu jam 11 pagi, suasana sudah sedemikian panas dan massa yang berkumpul sudah ingin melakukan pembakaran. Penyerangan terhadap properti warga Muslim dimulai sekitar jam 1 siang,” kata Tennakoon kepada Al-Jazeera.

Kerusuhan semakin memanas setelah seorang pria buddhist dari etnis mayoritas Sinhala tewas setelah sebelumnya mengalami cidera akibat kerusuhan. Distrik Kandy merupakan wilayah terparah yang mengalami konflik inter-komunal bermotif etnis dan agama di Sri Lanka. Jumlah keseluruhan penduduk Sri Lanka mencapai 21 juta.

Najah Mohamed, Ketua Partai Front Nasional (NFGG) menyampaikan kepada Al-Jazeera bahwa serangan terhadap warga muslim menyebar ke seluruh Sri Lanka, bukan hanya di Kandy.

“Kita sedang menghadapi situasi yang sama dengan yang pernah kita alami di era pemerintahan sebelumnya di mana ketegangan, kebencian, dan kekerasan terhadap warga muslim terjadi di mana-mana terutama di komunitas masyarakat yang terpisah,” kata Mohamed.

Kekerasan etnis dan agama bisa sewaktu-waktu meledak di Sri Lanka yang jumlah warga Muslimnya mencapai 10 persen, dan pemeluk Buddha Sinhala hampir 75 persen.

Sejumlah pengamat menuding kelompok garis keras Bodu Bala Sena (BBS) berada di balik kekerasan komunal.

“Massa BBS melakukan provokasi dan menghasut serangan terhadap muslim dengan cara yang belum pernah terbayangkan dan mereka mulai menyerang warga. Di sore hari, walaupun sudah ada polisi yang berjaga dan memberlakukan jam malam, kekerasan masih terus meningkat dan tidak dilaporkan,” imbuh Mohamed.

Kekerasan bermotif agama bukan hal yang baru di negara pulau itu. Sebuah kampanye anti muslim pernah terjadi menyusul kerusuhan Aluthgama pada bulan Juni 2014.

Sejak berkuasa di tahun 2015, Presiden Maithripala Siresena berjanji akan melakukan investigasi terhadap berbagai kasus kejahatan anti muslim, namun hingga saat ini belum ada kemajuan signifikan. Demikian juga, baik Presiden Siresena maupun Perdana Menteri Ranil Wickremasinghe belum mengeluarkan pernyataan resmi apapun menyikapi gelombang kekerasan yang terjadi saat ini.

Tinggalkan Balasan