Ketika Polisi Jadi Santri Instan di Ngruki

Sebuah video pendek masuk ke HP saya melalui grup Whatsapp alumni. Isinya, berita TV lokal tentang Polres Sukoharjo, Jawa Tengah, yang mengirim delapan anggota mudanya untuk nyantri di dua tempat; Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, dan Pondok Pesantren Singo Ludiro, Mojolaban. Polisi-polisi muda itu dibagi dalam empat kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Masing-masing kelompok akan nyantri selama dua hari, Sabtu dan Ahad.

Tujuan program ini, menurut Kasubag Sumda Kompol Bashirun, tidak ada motif lain kecuali, “Belajar tentang ilmu keagamaan.” Sedangkan pembawa beritanya menambahi, “(Agar) Dapat bekal ilmu agama, untuk diaplikasikan di masyarakat, terlebih untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif menjelang Pilkada Jawa Tengah.”

Sebenarnya bukan hal yang asing, polisi blusukan ke pondok—terutama Pondok Ngruki. Sejak masih diasuh oleh duo pendirinya, (Alm) Ust. Abdullah Sungkar dan Ust. Abu Bakar Baasyir hingga sekarang, selalu ada interaksi aparat kepolisian dengan beragam rasa ala permen Nano-Nano; pahit, asam dan manis. Secara pribadi, sebagai salah satu alumnus Ngruki, saya sih berharap kali ini manis rasanya.

Hanya yang masih ganjil bagi saya, dan juga sebagian kawan-kawan alumni, kok belajarnya cuma dua hari? Bagi kami para alumni yang berpengalaman nyantri 4 hingga 6 tahun, bisa mengukur kira-kira dapat apa kalau cuma belajar agama hanya dua hari saja.

Terlebih, menurut Ust. Ibnu Chanifah selaku Direktur Pondok, materi yang akan dipelajari adalah: Aqidah Islam, baca-tulis dan Tafsir Al-Quran. Ajiib, bukan materi ringan layaknya belajar nasyid atau menghafal mufrodat (kosa-kata) Arab.

Dari dua hari yang dihabiskan para polisi-polisi untuk tenggelam di Pondok Ngruki, satu hari (50%) nya sudah habis untuk orientasi. Misalnya bagaimana meresapi aturan datang ke masjid 15 menit sebelum azan, atau mengisi ujung malam dengan shalat tahajud di belakang imam yang kaya akan hafalan—sehingga bacaan suratnya panjang-panjang.

Saya yang berasal dari lingkungan sipil-awam saja dulu perlu waktu berbulan-bulan untuk beradaptasi. Apalagi mereka yang kesehariannya mengabdikan diri di lingkungan yang sangat birokratis, dan relatif “asing” dengan nilai-nilai keagamaan.

Bukannya saya meremehkan kehandalan mas dan mbak Polisi itu. Bisa jadi mereka adalah model santri zaman now yang serba instan, hanya perlu hitungan menit atau jam untuk orientasi dan selanjutnya menimba ilmu beneran. Cuma mungkin akan lebih efektif bila program diperpanjang menjadi (minimal) satu semester meski hanya nyantri Sabtu-Ahad saja.

Saya hanya khawatir saja, mengingat misi dan tugas yang mereka emban bukan main-main: mencari bekal ilmu agama untuk menjaga situasi aman dan kondusif menjelang Pilkada Jawa Tengah.

Tapi sudah lah, nggak usah komentar macam-macam. Berdoa saja semoga Allah bukakan pikiran mas dan mbak Polisi yang bertugas itu, sehingga mampu menerima ilmu sedalam-dalamnya, seluas-luasnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Lebih dari itu, sebenarnya saya dan sebagian kawan-kawan alumni menanti testimoni mas dan mbak Polisi tersebut tentang kesannya menjadi santri instan di almamater kami yang tercinta itu. Bagaimana suka-dukanya menimba ilmu di tempat yang sempat dituduh sebagai sarang teroris. Atau sekadar berbagi ilmu yang sudah di dapatkannya selama dua hari.

Poin terakhir penting untuk agar publik bisa membantu memberikan masukan baik kepada institusi Polisi selaku pemilik program maupun Pondok Ngruki sendiri sebagai tuan rumah. Juga untuk menepis berbagai syak wasangka terkait manuver tiba-tiba korps coklat itu yang merapat ke Islamis.

Terlebih di tahun-tahun politik ini, ketika Pak Kapolri tiba-tiba berkenan hadir di acara Damai Indonesiaku dan bertemu dengan Ustadz Abdul Shomad. Atau pak Wakapolri yang sekonyong-konyong minta labeling Islam dicopot dari pelaku ujaran kebencian dan hoaksyang sudah ditangkap dan sebelumnya disebut sebagai MCA (Muslim Cyber Army).

Tinggalkan Balasan