Konsekuensi Hoaks

Dalam Alquran telah jelas diterangkan bahwa berita bohong (hoaks) adalah modalnya orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka (QS al-Ahzaab [33] :60-61). Menyebarkan hoaks dan isu termasuk qiila wa qaala (katanya dan katanya) merupakan sikap yang ditolak dalam Islam dalam kondisi apa pun dan dalam model apa pun (QS al-Isra’ [17]: 36). Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA, “Dan Rasulullah membenci dari kalian ‘katanya dan katanya’, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.”

Berbagai macam konsekuensi akan muncul akibat perbuatan hoaks yang dilakukan oleh seseorang, baik yang berasal dari Allah SWT maupun dari sesama manusia sendiri. Maka dari itu, berhatihati dan waspadalah terhadap hoaks tersebut. Di antara konsekuensi yang bisa ditimbulkan akibat orang yang sering be bohong dan menyebarkan hoaks adalah dapat merugikan diri sendiri.

Pertama, dari sudut akidah, bila seorang mukmin sudah berani berdusta, maka martabat kemukminannya itu hilang, berganti dengan predikat munafik (na’udzu billah). Hal itu sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW melalui sabdanya, “Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, dan bila diberi amanat menghianati.”(HR Bukhari- Muslim).

Predikat mukmin adalah predikat yang sungguh sangat mulia, tetapi seorang mukmin jika berani dusta atau bohong maka predikatnya hilang dan diganti predikat munafik. Padahal, orang munafik sangat jelas ditegaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya: “Sesung guhnya orang munafik itu (ditem patkan) pada tempat yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun dari mereka.” (QS an-Nisaa [4] :145).

Kedua, hilangnya petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS al-Mu’min:28). Ketiga, Allah SWT menambahkan penyakit dalam hati dan siksa yang pedih bagi orang-orang yang suka berbohong lagi pendusta. Firman Allah SWT, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu di tam bah Allah penyakitnya, dan bagi me reka siksa yang pedih disebabkan me reka berdusta.” (QS al-Baqarah [2] :10).

Keempat, seseorang yang masih berdusta dan memilih kedustaan sehingga Allah menulis di sisi-Nya sebagai orang yang dusta. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai seorang yang siddiq (yang sangat jujur dan benar). Dan dusta menuntun kepada curang, dan curang itu menuntun ke dalam neraka. Dan seorang yang dusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Kelima, hilangnya kepercayaan. Sesungguhnya selama dusta menyebar dalam kehidupan masyarakat maka hal itu akan menghilangkan kepercayaan di kalangan kaum Muslimin, memutuskan jalinan kasih sayang di antara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan dan menjadi penghalang sampainya kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya

Keenam, pengaruh dusta terhadap anggota badan. Dusta menjalar dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan, maka rusaklah amal perbuatannya sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan dusta menuntun kepada kedurhakaan.” (Muttafaq’alaih).

Itulah sebagian konsekuensi melakukan perbuatan dusta (hoaks) yang terasa di dunia, dan di sisi Allah balasan bagi pendusta lebih dahsyat dan mengerikan. Jelaslah bahwa para pendusta akan berjalan di atas jalan yang menuju neraka, karena dengan berdusta berarti ia akan membuka berbagai pintu keburukan lainnya. Wallahu’alam.

Sumber : Pusat Data Republika

Tinggalkan Balasan