Khutbah Jumat: Nasihat Mujarab Untuk Hadapi Kematian

Khutbah Pertama:

الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jumat yang mulia,

Abu Bakar Ash-Shiddiq  pernah berpesan kepada sahabatnya; Khalid bin Walid a:

احرص على الموت توهب لك الحياة

“Carilah kematian, maka engkau akan diberi kehidupan.”

Ungkapan tersebut mengandung makna yang sangat mendalam bagi seorang mukmin. Sekaligus berat untuk dijalankan, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah.

Kematian itu suatu kepastian bagi setiap jiwa. Namun mayoritas manusia takut mati atau dengan ungkapan lain: belum siap untuk menghadapinya. Masih banyak mimpi yang belum tercapai; masih segudang harapan hidup yang belum terwujud.

Ada juga yang merasa belum waktunya untuk bertobat! Nanti setelah pensiun baru tinggal di desa, mendekat ke masjid dan mushola! Sekarang waktunya menikmati hidup dahulu! Ini prinsip hidup sebagian manusia!

Hari ini banyak orang sibuk dan berlomba-lomba untuk meraih nikmatnya hidup seakan-akan mereka akan hidup selamanya. Meskipun batinnya menyadari bahwa kematian bisa datang kapan saja dan ajal tidak bisa dihindari! Ini terasa aneh, tetapi kenyataannya banyak yang demikian!

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mengapa Abu Bakar Ash-Shiddiq berpesan seperti itu kepada sahabatnya? Karena tabiat dasar manusia pada masanya tidaklah berbeda dengan masa kita sekarang! Masyarakat umum pada masa itu juga takut mati, maka Abu Bakar menasihati sahabatnya untuk tidak takut, bahkan carilah kematian!

Nasihat itu setidaknya memberikan beberapa pelajaran untuk kita! Pertama, mencari kematian bukan berarti kita mencari mati ataupun asal mati apa lagi mati asal-asalan, melainkan bagaimana mempersiapkan kematian yang terbaik dan salah satu kematian terbaik adalah mati syahid di jalan Allah SWT. Nasihat ini penting bagi seorang komandan perang seperti Khalid bin Walid yang memimpin banyak pasukan ketika itu.

Pemimpin perang yang berani akan membangkitkan semangat juang pasukannya. Lebih daripada itu, gugur dalam jihad fi sabilillah membuktikan nasihat Abu Bakar bahwa mereka diberi kehidupan itu. Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”  (Ali Imran: 169)

Dalam konteks ayat tersebut, Ibnu Taimiyah mengatakan:

كل الناس يذهبون للموت عن طريق الحياة، إلا المُجاهد فهو يذهب للحياة عن طريق الموت

“Setiap manusia menuju kematiannya melalui kehidupan kecuali mujahid, karena dia menuju kehidupan melalui kematian.”

Jamaah Jumat, rahimakumullah,

Kedua, mencari kematian bermakna siap untuk menghadapinya kapan saja. Orang yang beriman akan adanya hari pembalasan, tidak akan siap menghadapi kematian kecuali ia selalu menjaga diri dalam ketakwaan. Sejauh yang ia mampu, ia akan melakukan itu! Karena itulah ia siap dipanggil Allah kapan saja!

Maka orang yang bermaksiat itu, pasti tidak siap untuk menghadapi kematian. Ia berharap hidup lebih lama atau ada niat bertobat pada masa mendatang. Saudara-saudara Nabi Yusuf, ketika berencana untuk membunuh beliau, salah seorang di antara mereka nasihatnya: buang saja ke dalam sumur, setelah itu jadilah orang baik-baik. Dengan ungkapan lain, berbuat jahatlah sekali ini, setelah itu bertobatlah!

Masih dalam konteks maksiat itu, Rasulullah bersabda:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang yang berzina itu imannya hilang saat melakukannya. Setelah itu, entah kembali atau tidak keimanan pada pelakunya. Lalu bagaimana dengan orang yang mati di lokalisasi, yang sering kita dengar kadang dalam kondisi tanpa busana dan sebagainya? Na’udzu billah min dzalik!

Jamaah Jumat, rahimakumullah,

Adapun yang ketiga, orang tidak akan membawa apa-apa dari dunianya setelah mati. Hanya amalnya yang ikut bersama menemaninya. Maka salah besar, ketika seseorang sibuk urusan dunia sampai lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Islam tidak mencela orang yang bersungguh-sungguh membangun bisnis dan bekerja untuk kemakmuran hidupnya. Tetapi, apakah semua upaya itu sudah berada dalam jalur yang mendukung kebahagiaan dirinya dalam hidup setelah kematian? Atau malah sebaliknya? Ini yang harus kita cek ulang, agar tidak ada yang salah dalam hidup kita!

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat, rahimakumullah,

Faidah lain dari nasihat Abu Bakar Ash-Shidiq yang kita bahas di khutbah pertama tadi, bahwa orang yang mati dalam khusnul khatimah dengan menyiapkan amal yang baik di dunianya, maka ia tetap dikenang setelah kematiannya. Namanya tetap harum, meskipun jasadnya telah hancur bersama tanah.

Kemudian yang kedua adalah diberi kehidupan sejati di akhirat dalam kebahagiaan di surga. Inilah peristirahatan terakhir yang kita harapkan semua. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkannya.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

sumber : kiblat.net

Tinggalkan Balasan