Bulton Jabat Ketua Lembaga Antimuslim Amerika

WASHINGTON — Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dilaporkan telah menjabat sebagai ketua Gatestone Institute, sebuah lembaga think tank anti-Muslim berbasis di New York. Lembaga ini mengklaim bertugas untuk ‘mendidik’ masyarakat mengenai apa yang tidak diberitakan media.

 

 

Gatestone tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar ketika ditanya apakah lembaga itu benar-benar menyebarkan paham anti-Muslim. Namun, lembaga tersebut menyebarkan beberapa berita kontroversial berjudul “Palestinians: New Twist on an Old Lie dan “UK: Teacher Handbook Supporting Extremism?”

 

Berita lain juga menyoroti seorang wanita keturunan Somalia-Swedia beragama Islam yang masuk ke agama Kristen. “Saya selalu mengatakan kepada teman-teman Kristen saya, ‘Apa yang Anda pikirkan, apa yang akan terjadi pada Anda jika Islam menjadi agama dominan di sini’,” tulis berita itu.

 

Bolton tidak menulis salah satu dari berita-berita anti-Islam itu. Namun, NBC News melaporkan dia memiliki hubungan dengan Pamela Geller, seorang aktivis yang berkampanye menentang pembangunan sebuah masjid di dekat lokasi serangan 11 September di New York.

 

Geller juga mendirikan sebuah kelompok yang disebut America Freedom Defence Initiative bersama dengan supremasi kulit putih yang memproklamirkan Richard Spencer. Bolton telah menulis kata pengantar untuk buku Gellar dan muncul di program radionya.

 

Gatestone semakin tenar setelah memberitakan zona larangan bepergian untuk non-Muslim di Prancis dan Belgia di wilayah mayoritas Muslim yang memberlakukan aturan hukum syariah. Hal ini memicu Senator Republik Ted Cruz menyerukan pemantauan Muslim di Amerika.

 

“NBC News menemukan setidaknya ada empat akun palsu Rusia yang diketahui langsung meretweet konten dari akun Gatestone,” lapor NBC News. Akun-akun itu diidentifikasi oleh Twitter sendiri sebagai akun palsu Rusia yang bekerja untuk Internet Research Agency yang terhubung dengan Kremlin.

 

Satu berita yang diretweet mengklaim ada 423 masjid yang telah dibuka di London sementara 500 gereja telah ditutup. Kenyataannya, jumlah gereja di Inggris telah meningkat sebagian karena masuknya imigran dari Polandia dan Rumania.

 

 

 

sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan