Dahulu, Minat Umat Islam Membaca Buku Begitu Besar

Sesungguhnya, kebiasaan para penguasa Muslim untuk menggemari pustaka sudah lama bermula. Pada zaman Dinasti Umayyah, Khalifah Muawiyah I telah mendirikan lembaga yang bernama Bayt al-Hikmah di Damaskus, Suriah.

Pelbagai naskah berbahasa Yunani, Latin, dan Per sia dikumpulkannya untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dengan bantuan para sarjana Muslim dan non-Muslim yang digaji negara. Pada era ini pula, teknologi pembuatan kertas yang ditemukan orang-orang Cina mulai diadopsi.

Mereka mengumpulkan begitu banyak naskah berbahasa Yunani, Cina, Sanskerta, Persia, dan lain- lain untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada awalnya, naskah-naskah yang dialihbahasakan sebatas tentang tema- tema kedokteran, matematika, dan astronomi. Akan tetapi, belakangan pelbagai bidang keilmuan lainnya turut diseriusi.

Rasa cinta penguasa Dinasti Abbasiyah terhadap buku begitu besar. Bahkan, beberapa perang besar yang dilakukan wangsa ini berakhir dengan perundingan yang mensyaratkan penyerahan buku.Misalnya, perang antara Abbasiyah dan Romawi Timur. Salah satu poin yang diwajibkan sultan Abbasiyah terhadap Byzantium adalah penyerahan naskah-naskah buah tangan astronom Yunani Kuno, Ptolemeus, kepada Baytul Hikmah.

Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, naskah-naskah tersebut dinamakan ulang sebagai Almagest. Karya ini dan dua buku lainnya, yakni Siddhantadari India dan Zij-i Syahriyaridari Persia Kuno, kemudian menjadi masukan penting bagi para astronom Muslim mengeksplo rasi lebih presisi lagi posisi benda-benda langit.

Di samping itu, mereka juga mengadakan sejumlah koreksi besar atas hasil observasi astronom-astronom dari masa silam itu. Demikian dikutip dari buku karangan Joseph A Angelo, Encyclopedia of Space and As tronomy dan Science and Civil i za ti on in Islam karya Seyyed Hossein Nasr.

 

 

 

 

sumber : republika.co.id

Tinggalkan Balasan