Hukum Membiarkan Najis Mengering

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Yang menjadi acuan adalah keberadaan zat najisnya dan bukan basah atau keringnya najis. Sehingga selama bekas najisnya masih ada, harus dibersihkan.

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentang tanah yang terkena kencing, jika sudah kering karena terkena sinar matahari, apakah semata kering jadi suci?

Jawaban beliau,

ليس المراد بكون الأرض تطهر بالشمس والريح : مجرد الجفاف ؛ بل لابد من زوال الأثر حتى لا يبقى صورة البول أو الشيء النجس

Maksud tanah bisa menjadi suci dengan matahari dan terpaan angin, bukan semata kering. Namun harus sampai hilang bekasnya, sehingga tidak tersisa lagi unsur kencingnnya atau zat najisnya.

وعلى هذا فنقول : إذا حصل بول في أرض ، ويبس ، ولكن صورة البول لازلت موجودة ، يعني أثر البقعة ، فإنها لا تطهر بذلك .

لكن لو مضى عليها مدة ، ثم زال أثرها : فإنها تطهر بهذا ؛ لأن النجاسة عين يجب التخلي منها ، والتنزه منها ؛ فإذا زالت هذه العين بأي مزيل : فإنها تكون طاهرة

Berdasarkan hal ini, jika tanah terkena kencing dan mengering, namun zat kencing masih ada, artinya masih ada bekasnya, maka dia belum suci. Namun setelah berlalu beberapa waktu, hingga bekasnya hilang, maka tanah itu menjadi suci.

Karena najis adalah zat yang wajib dihilagkan dan dibersihkan. Jika zat ini hilang dengan cara apapun, maka berubah menjadi suci.

(Fatwa Nur ‘ala ad-Darb, volume 122/4).

Demikian, Allahu a’lam.

 

 

 

 

sumber : konsultasisyariah.com

Tinggalkan Balasan